Takwa merupakan esensi terdalam dari agama. Sedangkan unsur terpenting dalam takwa adalah ingat kepada Allah, yang dalam bahasa Arab disebut zikir.
Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menguraikan zikir dan perintah untuk melalukan serta tata caranya. Dalam surat Thaha ayat 14, Allah berfirman kepada Nabi Musa, “Tegakkanlah shalat untuk ingat kepada-Ku”.
Pada ayat lain, Allah memperingatkan agar kita senantiasa mengingat-Nya : “Kamu janganlah seperti mereka yang lupa kepada Allah, maka Allah pun akan membuat merela lupa akan diri mereka sendiri”.
Di ayat lain, Allah mengatakan bahwa kaum munafik adalah “mereka yang apabila mengerjakan shalat bermalas-malasan. Mereka berpamrih dan tidak ingat kepada Allah kecuali sedikit saja”.
Dari ayat di atas, tampak begitu pentingnya zikir dalam ajaran agama, sehingga keberagamaan itu tidak mungkin tanpa mengingat-Nya. Bahkan zikir merupakan salah satu inti dari ajaran agama itu sendiri.
Dalam Al-Quran, Allah menyebut cirri orang yang terpuji : mereka yang memiliki pikiran-pikiran mendalam atau disebut ulul-albab, orang yang selau ingat kepada Allah pada waktu berdiri, duduk dan ketika mereka berbaring diatas lambung-lambung mereka.
Hal ini berarti bahwa mengingat Allah itu tidak mengenal ruang dan waktu. Kapan pun dan dimasa pun, kita harus senantiasa berzikir(mengingat Allah).
Banyak sekali berkah atau faedah dari berzikir. Salah satunya, dengan mengingat Allah, kita menghayati dan menginsafi bahwa hidup ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Inilah makna dari ungkapan yang sering kita baca dari , inna lillahi wa inna ilaihi rarajiun”/
Dan orang yang khusuk ialah mereka yang memiliki kesadaran tentang asal dan tujuan hidup yang bermakna ini, dan tidak sia-sia. Al-Quran mengatakan : “Apakah kamu mengira Kami ciptakan kamu ini sia-sia (abatsa) ? Tidak !”.
Karena itu, orang yang memiliki makna hidup seperti ini akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Seluruh tingkah lakunya bermajna termasuk penderitaannya.
Orang yang menderita untuk suatu makna atau sebuah tujuan akan tetap bahagia ketimbang mereka yang tidak menderita tapi hidupnya tidak memiliki arti.
Alangkah indahnya jika kita bisa memelihara rasa ingat kepada Allah bahwa kita akan kembali kepada-Nya. Proses ini berdemensi spiritual, tidak seperti bayi yang mnenangis kemudian diam lantaran didekap ibunya. Sebab ini hanya berdemensi psikologis semata.
Dalam dekapan Allah SWT terkandung suatu pengalaman rohani yang jauh lebih dalam . Karena itu Al-Quran menyebutkan ,” Ketahuilah bahwa dengan ingat kepada Allah itu hatimu manjadi tentram”.
| < Prev | Next > |
|---|





