Home ARTIKEL Cerita WIDHIYANI

WIDHIYANI

PDF

Rumah itu kokoh dan besar dikelilingi halaman yang luas, dibagian depannya berdiri pagar besi setinggi tiga meter, dibagian kiri, kanan dan belakangnya masih terdapat sisa tanah yang dimanfaatkan sebagai taman yang dibatasi tembok setinggi tiga meter terhadap halaman tetangga. Beberapa jendela berteralis terlihat  disana – sini mengapit sebuah pintu utama yang terbuat dari kayu jati.

Rumah berarsitektur Belanda itu bercat putih, bagian bawah tembok bagian luarnya dihiasi dengan ornament batu tempel berwarna hitam kelam. Suasana sekeliling saat itu terasa sunyi dan dingin.

Seorang wanita berdiri dibalik jendela, tangannya memegang teralis didepannya bagai orang dalam penjara, tatapan matanya kosong memandang halaman rumah itu, susasana hatinya saat itu seolah tergambar oleh suasana senja yang sepi,  . . . dingin . . . . . dan duka . . . . .

Andhika tak tahu mengapa ia berada disini, apalagi perlahan – lahan dikejauhan dilihatnya langit menjadi gelap, awan bergulung diikuti angin puting beliung yang berputar kencang, suasana saat itu benar – benar menyeramkan, Andhika berusaha untuk membuka pagar rumah besar itu sekedar ingin ikut berlindung, namun pagar rumah itu sangatlah kokoh dan ia tak bisa membukanya. Angin itu bergerak semakin dekat, . . . Andhika semakin kokoh berpegangan pada pagar besi itu, karena ia tak tahu harus kemana lagi untuk berlindung. Gadis dibalik jendela itu juga terlihat khawatir melihat keadaan Andhika, mulutnya bergerak mengucapkan kata – kata tetapi suara angin yang riuh membuat suaranya tak dapat terdengar oleh Andhika.

Angin itu akhirnya sampai ketempat Andhika berdiri, . . . Andhika berusaha bertahan sekuatnya namun ia akhirnya menyerah oleh tarikan yang amat dahsyat, pandangannya menjadi gelap dan pegangannya mulai terlepas, sayup – sayup terdengar suara seorang wanita memanggilnya, Andhika . . . Andhika . . . . . Andhika . . . !!

Andhika merasa tersedak dan napasnya terasa sesak, ia tersadar dari mimpi yang cukup membuat jantungnya seolah berhenti, saat itu jam dinding dikamarnya masih menunjukkan pukul 02.00 pagi. Benar – benar mimpi yang mendebarkan gumamnya dalam hati, ia lalu meraih segelas air putih di meja kecil disebelah tempat tidurnya. Setelah menenangkan diri sejenak, ia mencoba tidur kembali walaupun agak sulit, karena bagaimanapun mimpi itu terasa begitu nyata, namun ia harus segera bisa beristirahat untuk mempersiapkan diri dalam perjalanan esok pagi ke daerah Cimahi.

Pukul 06.00 Bel berbunyi, Andhika bergegas membuka pintu, terlihat Pak Tikno sopirnya telah berada didepan pagar,

“Pagi pak, . . .” pak Tikno menyapa ramah.

“Pagi, . . . sudah siap pak Tikno, sudah sarapan ?” Andhika bertanya, sambil membukakan pintu pagar.

“Sudah pak, saya sudah sarapan, silahkan kalau bapak mau sarapan dulu, biar mobilnya saya panaskan” jawab pak Tikno sambil menerima kunci dari Andhika.

“Ok, saya habiskan sarapan saya dulu ya . . .?”

“iya pak, silahkan . . .” pak Tikno membungkuk sedikit, sementara Andhika kembali masuk kedalam rumah meneruskan sarapannya lagi.

Tak terasa pukul 08.15 kendaraan mereka telah sampai didaerah Cimahi, perlahan Andhika membuka matanya, dalam perjalanan tadi Andhika lebih banyak tidur dikarenakan masih kurang fit akibat tidurnya terganggu tadi malam.

“Sudah sampai ya pak, . . .” Andhika membuka pembicaraan
“Eh, iya . . .Sudah pak, kita ke kemana dulu pak, . . ?” pak Tikno baru sadar kalau Andhika sudah terbangun.

“Ke arah Cihanjuang saja, ke sekitar lokasi Proyek kita, kita cari kontrakan di sekitar itu biar dekat dengan Proyek, ohya nanti kalau ada yang jual koran tolong belikan koran Pikiran Rakyat pak. Saya mau lihat iklan rumah kontrakan terbitan hari ini”

“Baik pak, . . .” pak Tikno mengarahkan kendaraannya ke arah Cihanjuang.

Walaupun merupakan kota baru, namun aktivitas kota Cimahi cukup ramai saat itu, disana – sini mulai terjadi kemacetan. Andhika kembali membaca daftar rumah kontrakan yang akan didatanginya yang ia kumpulkan dari iklan surat kabar edisi beberapa hari terakhir.

Untuk keperluan pelaksanaan Proyek Konstruksi di Cimahi itu, Andhika memang mendapat tugas dari atasannya untuk mencari rumah kontrakkan disekitar daerah proyek, sebisa mungkin yang mempunyai 4 buah kamar atau lebih, karena staff inti lapangan yang akan ditempatkan disana kurang lebih berjumlah sepuluh orang.

Saat ini jam menunjukkan pukul 13.00 matahari mulai condong ke barat, namun sinarnya masih terasa panas menyengat. Sudah 5 rumah didatangi Andhika, namun belum ada yang cocok, ada yang punya kamar banyak tetapi harganya sangat mahal, tidak masuk dalam anggaran yang hanya 20 juta rupiah pertahun. Ada yang dibawah 15 juta tetapi kamarnya hanya 2 buah.

“Ternyata susah juga ya . . cari kontrakan didaerah Cimahi, harga – harga disini ternyata tidak jauh berbeda dengan di seputaran Jakarta” Andhika berkata pada pak Tikno saat mereka beristirahat di sebuah rumah makan tak jauh dari Cihanjuang.

“Iya pak, saya juga nggak nyangka, bahkan harganya lebih mahal dibandingkan didaerah saya di daerah Bekasi Timur”

“Pak, tolong ambilkan koran hari ini yang tadi kita beli, siapa tahu ada iklan yang baru”

“Baik pak, . . . “ pak Tikno bergegas ke mobil untuk mengambil koran Pikiran Rakyat terbitan hari ini.

Andhika meneliti satu persatu iklan yang dimuat pada hari itu, pandangannya tertuju pada salah satu iklan yang menarik perhatiannya.
DIKONTRAKKAN, RUMAH BESAR, 5 RT, 1 RK, 1 RT, 1 DPR, 1 KP, GARASI, HALAMAN LUAS, SANGAT MURAH, BU. HUB Ronaldi : 0856 888 30 . .

Andhika segera mengontak no yang dimaksud, 15 menit kemudian ia sudah berada didepan rumah yang diiklankan tersebut. Ia merasa kaget karena sepertinya ia mengenal bentuk rumah tersebut, sebuah rumah besar bercat putih dengan halaman yang luas, serta jendela – jendela yang dipasangi teralis yang kokoh, tak salah lagi ini adalah rumah yang ada dalam mimpinya semalam. Ia tak sempat berpikir panjang ketika seseorang dengan kendaraan Vespa menghampiri dan menyapanya.

“Maaf, apa betul dengan pak Andhika . . . ?” pemuda itu menyapanya ramah, sambil mengulurkan tangan.

“Benar, bapak tentunya pak Ronaldi . . .” Andhika berkata sambil menjabat tangan pemuda itu

“Panggil saja Aldi . . . . saya dari Scala Realty yang ditugaskan untuk mengurusi rumah ini pak, mari kita masuk kedalam . . . “ pemuda bernama Aldi itu lalu membuka pagar besi halaman muka dan menuntun kendaraannya masuk kehalaman, Andhika mengikutinya dibelakang.

“Mobilnya dimasukkan saja pak, . . . .” Aldi menambahkan

Andhika segera memerintahkan pak Tikno untuk memasukkan kendaraan mereka ke halaman. Halaman itu begitu luas sehingga bisa menampung beberapa buah mobil sekaligus, dilihat dari rumahnya sepertinya cocok sekali dengan kriteria yang diinginkan hanya saja apakah harganya cocok dengan anggaran yang telah ditetapkan ? Andhika bertanya dalam hati.

“Mari pak, silahkan masuk kedalam . . . “ Aldi mempersilahkan

Rumah itu cukup besar mempunyai 5 buah kamar tidur, 3 buah berukuran 4 x 5 m dengan kamar mandi didalam, sedang yang 2 buah berukuran 3 x 4 m, ruangan lainnya pun besar – besar dengan tinggi langit – langit mencapai 3 m. Beberapa mebel tua menghiasi ruang keluarga dan ruang tamu.

“Maaf pak Aldi, saya bisa pinjam kamar mandinya . . . ?”

“Oh, . . silahkan pak, terserah mau yang mana dikamar depan, di kamar tengah, atau yang di belakang itu” Aldi mempersilahkan.

“Terima kasih, saya ke kamar depan saja . . .” Andhika membuka pintu kamar depan lalu menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Saat masuk kekamar mandi itu, terasa ada hawa dingin ditengkuknya, sesaat bulu kuduknya terasa berdiri, namun Andhika tidak terlalu memperdulikannya, ia berpikir mungkin ini adalah hembusan angin dari jendela bevel yang ada diatas.

Cukup lama Andhika dan Aldi bercakap – cakap di ruang keluarga, Aldi menceritrakan bahwa rumah tersebut memang dibangun pada zaman Belanda sekitar tahun 1930 an, Rumah ini kemudian diwariskan kepada Pak Kartiwa sebelum akhirnya dijual kepada keluarga Drajat Kosasih pada tahun 1970, namun keluarga tersebut lebih memilih menetap di Bandung, dan rumah ini selalu dikontrakkan dari tahun ketahun. Andhika menyimak cerita tersebut dengan seksama.

“Sayang ya pak, kok rumah sebesar ini tidak ditinggali, . . .” Andhika berkata menyelidik.

“Ya . . . maklumlah orang kaya pak, rumahnya dimana – mana, mungkin juga untuk investasi, buktinya daerah Cimahi ini terus berkembang dan menjadi kota Administratif yang mandiri, mungkin bapak sudah berkeliling didaerah ini, silahkan bapak bandingkan, pasti tidak ada rumah sebesar ini yang dikontrakkan dengan harga yang hanya 15 juta pertahun” Aldi menjelaskan dengan gaya khas seorang broker.

Diam – diam Andhika mengiyakan dalam hati, karena sudah seharian ia berkeliling, namun harga rumah kontrakkan yang memiliki kamar lebih dari empat rata – rata ditawarkan diatas 25 juta rupiah pertahunnya. Ia sebenarnya sudah merasa cocok dengan rumah ini dilihat dari kebutuhan perusahaan mereka serta anggaran yang disediakan, apalagi lokasinya cukup dekat dengan proyek yang akan dibangun, namun tentu saja ia harus mencoba untuk menawarnya, siapa tahu bisa.

Disisi lain Aldi yang dapat menangkap kebutuhan Andhika tidak mau bergeming dari harga yang ditawarkan, ia bahkan menambahkan bahwa jika Andhika tidak segera memutuskan, maka kemungkinan besar rumah ini akan diambil penawar lain yang juga dari Jakarta.

Andhika yang memang benar – benar membutuhkan rumah tersebut untuk dijadikan Mess demi kepentingan perusahaannya, akhirnya menyetujui untuk mengontrak rumah tersebut untuk masa sewa 2 tahun sama seperti masa pelaksanaan proyek yang akan dikerjakannya yaitu selama kurang lebih 2 tahun.

Satu minggu kemudian Team Surveyor telah diturunkan kelapangan, terdiri dari 4 orang. Team ini bertugas untuk melakukan pengukuran dilokasi proyek yang akan dikerjakan. Sementara Andhika yang merupakan Manajer Proyek masih berada dikantor pusat Jakarta guna menyusun Tim lainnya yang akan diturunkan secara bertahap kelapangan.

Dua minggu berikutnya Andhika berangkat ke Cimahi untuk memulai aktivitas proyek secara penuh, cukup banyak peralatan dan perlengkapan yang dibawa, seperti komputer, TV, pakaian dan lain – lain. Andhika sudah siap menetap disitu untuk jangka waktu 2 tahun. Memang ada gunanya juga ia masih membujang, pikirnya dalam hati, karena bila ditugaskan seperti ini maka tidak terlalu memberatkan, dan siapa tahu bertemu mojang priangan yang terkenal cantik – cantik.

“Selamat datang pak, . . .” sapa beberapa staffnya yang sedang istirahat siang dirumah besar yang telah dijadikan Mess tempat base camp mereka di Cimahi itu.

“Selamat siang, bagaimana khabarnya, . . . kamar buat saya sudah disiapkan . . . ?” Andhika berkata.

“Baik pak, pekerjaan dilapangan berjalan lancar, . . . ehm . . . kamar buat bapak sudah disiapkan . . . “ pak Dedi kepala Surveyor saling pandang dengan rekannya, yang dipandang juga menunjukkan ekspresi bingung.

“Benar tidak ada masalah dilapangan ?, kalian kok seperti orang bingung begitu ?” Andhika yang menangkap ada sesuatu yang disembunyikan anak buahnya ini bertanya menyelidik.

“Benar pak, kalau di lapangan berjalan lancar, nanti bapak bisa lihat Laporannya.” Pak Dedi menjawab meyakinkan.

“Oke, tolong ada yang bisa bantu pak Tikno menurunkan barang – barang saya untuk dimasukkan ke kamar” Andhika tidak mau memperpanjang kecurigaannya.

Waktu seharian itu dipergunakan Andhika untuk membereskan barang – barangnya dibantu oleh pak Tikno. Pada sore harinya ia berjalan kehalaman belakang sekedar ingin menikmati udara segar dihalaman yang rimbun, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara dua orang office boy.

“Apa pak Andhika tidak marah ya, kalau dikasih kamar depan itu ?” salah seorang berkata pada rekannya.

“Ya enggaklah, bagaimanapun kan kamar depan itu adalah yang paling bagus diantara kamar lainnya, kamar mandinya juga lebih bagus, kalau disuruh pilih sendiri pasti pak Andhika juga memilih kamar yang itu” rekan satunya menjawab.

“Tapi, kan kita tahu kalau kamar itu, . . . “ ia tak meneruskan kata – katanya karena sudah dipotong oleh rekannya.

“Ah, sudahlah . . . nggak usah dipikirkan, itu bukan urusan kita, ayo kita siapkan kopi dan makanan kecil, sebentar lagi tim dari lapangan akan pulang, mereka akan ngomel bila kita belum menyiapkan kopi.” Mereka mengakhiri pembicaraan itu.

Andhika merasa penasaran juga, namun untuk menanyakan langsung kepada mereka ia merasa tidak enak, takut dianggap sebagai atasan yang terlalu mengintimidasi, biarlah ia cari tahu sendiri, apa sebenarnya yang mereka rahasiakan.

Malam itu Andhika memeriksa progress kemajuan proyek, yang ada di mejanya, memang ia melihat sejauh ini tidak ada kendala yang berarti yang ada di lapangan, beberapa masalah sosial lingkungan tentang warga sekitar yang minta diberi pekerjaanpun telah dapat diakomodasi dengan baik oleh staffnya dilapangan.

Andhika baru saja selesai memeriksa seluruh laporan yang ada di mejanya ketika dilihatnya waktu telah menunjukkan pukul 23.30. Seluruh staff proyek telah tertidur lelap, rupanya rasa lelah karena seharian bekerja dilapangan telah membuat mereka segera dapat tertidur. Andhika yang merasakan perutnya lapar melangkah ke dapur untuk mencari makanan kecil, namun ternyata tidak ada makanan yang tersisa, kecuali bahan mentah yang ada di kulkas.

Benar – benar ludes tak bersisa, bisiknya kecewa, namun ia segera teringat diujung jalan terdapat warung yang menjual mie rebus, mudah – mudahan jam segini masih buka, pikirnya. Ia segera bergegas mengambil jaket dan keluar rumah menuju warung itu.

Warung itu sepertinya masih buka, cahaya lampu petromaknya terlihat dari kejauhan. Andhika mempercepat langkahnya kesana. Sesaat kemudian ia sudah berada diwarung sederhana itu, hanya satu orang yang sedang makan disitu. Pemilik warung seorang laki – laki setengah baya terlihat sedang asyik terlibat pembicaraan dengan tamunya.

“khabarnya rumah hantu itu sekarang sudah ada yang menempati ya, . . . ?” pemilik warung berkata pada tamu didepannya.

“Iya saya dengar – dengar sih begitu, . . . “ si tamu berkata sambil menyantap hidangan bubur kacang hijau.

“Wah bisa tahan berapa lama ya mereka . . . ?” pemilik warung itu berkata lagi.

“Nggak tahu juga, . . . . . . eh itu ada yang beli dilayani dulu” si tamu menghentikan pembicaraan karena dilihatnya Andhika masuk dan duduk disitu.

“Malam pak, . . . minta mie rebusnya ada . . ?” Andhika menyapa sambil tersenyum, memotong pembicaraan mereka.

“Oh ada, biasa atau pakai telor ?” pemilik warung bertanya.

“Pakai telor deh pak, . . . minumnya kopi manis saja”

Tak lama kemudian pesanan Andhika sudah siap dan Andhika segera menyantapnya. Kembali pemilik warung meneruskan pembicaraan dengan tamunya yang tadi sempat terhenti karena kedatangan Andhika. Diam – diam Andhika menyimak pembicaran mereka karena pembicaraan itu sangat menarik perhatiannya.

“Pengontrak terakhir tahan berapa lama ya, . . . ?” pemilik warung memulai pembicaraan lagi.

“Kalau tidak salah 1 bulan, hampir tidak ada yang kuat lebih dari itu, khabarnya keluarga mereka mengalami trauma yang cukup berat”

“Kok rumah itu tetap saja ada yang mau mengontrak ya, padahal didaerah sini kan sudah terkenal keangkerannya . . . ?” pemilik warung bertanya lagi dengan mengernyitkan keningnya.

“Lho, kan pengontraknya kebanyakkan datang dari luar kota, jadi ya nggak tahu permasalahan yang ada, lagian harga sewanya murah sekali untuk rumah sebesar itu, hanya 15 juta rupiah pertahun, didaerah ini mana ada yang semurah itu” laki – laki itu menjawab dengan acuh tak acuh.

“benar juga, ngomong – ngomong siapa yang mengontrak rumah itu sekarang, . . ?” pemilik warung bertanya lagi.

“Saya dengar, pengontrak sekarang ini Kontraktor yang sedang mengerjakan proyek perkantoran Pemda di Cihanjuang ini, jadi selain untuk tempat tinggal rumah itu juga dijadikan sebagai kantor mereka”

“Ooo . . . pantas mobilnya banyak, ada yang kijang ada yang pik up, rupanya mereka Kontraktor ya, . . .” pemilik warung menggangguk – anggukkan kepalanya.

Andhika berhenti sejenak menyantap makanannya, ia tak menyangka bahwa rumah angker yang dimaksud dalam pembicaraan itu adalah rumah kontrakkan yang kini sedang ditempatinya . . . , siapa lagi kontraktor yang sedang mengerjakan proyek perkantoran pemda di Cihanjuang itu selain ia bersama timnya, ia mencoba menenangkan hatinya namun bagaimanapun informasi itu mengganggu pikirannya.

“Berapa semuanya pak . . . ?” Andhika bertanya, entah mengapa ia ingin segera pulang dan beristirahat.

“Ada tambahan apa lagi . . . ?” pemilik warung bertanya memastikan

“Nggak ada, cuma Mie rebus pakai telor dan kopi manis , . . .”

“enam ribu lima ratus . . . .”

Andhika segera membayar dan bergegas pulang, ia bukanlah seorang yang penakut tetapi ada baiknya berhati – hati agar siap menghadapi apa yang bakal terjadi.

Beberapa meter menjelang depan rumahnya ia melihat dihalaman Rumah tua yang bersebrangan dengan rumahnya dengan diterangi cahaya lampu taman yang remang – remang, seorang gadis sedang menyiram tanaman bunga dihalamannya, wangi melati menyebar dikegelapan malam. Gadis itu memakai rok selutut dengan model rimpel – rimpel warna biru tua dengan motif bunga – bunga besar yang berwarna warni, Andhika teringat model itu mirip seperti model rok yang dimiliki ibunya dulu, diatasnya gadis itu mengenakan sweater warna krem lengan panjang yang lengannya ditarik sampai ke siku, kerah hem putih mencuat dari balik kerah sweaternya. Wajahnya putih dan cantik, rambutnya lurus sebahu.

Andhika memperlambat langkahnya sambil menikmati pemandangan didepannya, hatinya terasa bergetar . . . , gadis itu cantik sekali, ia tak menyangka mempunyai tetangga secantik itu didepan rumahnya, ingin ia berkenalan, tetapi hari sudah sangat larut, nanti apa kata orang ?, tapi mengapa selarut ini gadis itu masih menyiram bunga ?, ah mungkin ia sedang tidak bisa tidur, . . . Andhika menjawab sendiri beberapa pertanyaan yang timbul dalam hatinya.

Perlahan ia membuka pagar seolah tak ingin mengusik keasyikan si gadis, saat menutup pintu pagar dan menguncinya ia memandang lagi ke halaman rumah didepannya, tak sengaja pandangan mereka bertemu, Andhika terpaku diam ketika sigadis memandangnya sambil tersenyum kecil disudut bibirnya sebelum ia melangkah masuk kedalam rumahnya. Andhika menepuk kepalanya sendiri, mengapa ia tidak balas tersenyum dan hanya bisa terpaku seperti itu . . .?.

Didalam kamar ia menjatuhkan dirinya rebah tertelungkup, pikirannya dipenuhi bayangan si gadis cantik, ia bahkan sudah melupakan cerita yang didengarnya diwarung ujung jalan. Tak berapa lama ia sudah tertidur lelap. Ia bermimpi bertemu seseorang yang mengenakan jubah hitam, kepalanya ditutupi kain dengan warna yang sama, demikian pula wajahnya ditutupi cadar berbentuk jaring berwarna hitam, namun lekukan pada pinggangnya yang dililit seutas tali membuat ia yakin bahwa sosok ini adalah seorang wanita. Andhika mendengar sosok hitam itu berkata, suara seorang wanita “Tuan, tolong aku . . . tolong aku, aku ingin beristirahat dengan tenang”

“Bagaimana aku harus menolongmu ?” Andhika mencoba bertanya walaupun bulu kuduknya berdiri.

“Tolong aku tuan, sudah lama aku terkurung ditempat ini . . . “ sosok itu menjawab dengan suara putus asa, dan perlahan – lahan ia menghilang ditelan kabut pekat, Andhika hanya berdiri termangu memandang kepergian sosok itu.

Sinar matahari masuk melalui kisi – kisi jendela, Andhika membuka matanya, diliriknya jam di mejanya menunjukkan pukul 07.06 pagi, sayup terdengar suara pembicaraan di meja makan, ia mendengar pembicaraan anak buahnya sedang membicarakan mengenai dirinya.

“Pak Andhika belum bangun juga ya . . . .?”

“Iya, jangan – jangan terjadi sesuatu, kemarin seharusnya kita menceritakan mengenai keangkeran kamar depan itu . . .” terdengar suara menyalahkan temannya.

“Aku sih sebenarnya mau bicara, tapi nanti kita pula yang disuruh tidur di kamar hantu itu, kan bisa berabe . . . ?”

“Sekarang jadi bagaimana . . . ? apa kita bangunkan saja beliau, kalau tidak ada sahutan kita dobrak saja pintunya siapa tahu terjadi sesuatu”

“Tapi kalau tidak terjadi sesuatu dan beliau sedang tidur nyenyak bisa berabe kitanya “ yang lain terdengar menimpali.

Andhika tersenyum sendiri mendengar obrolan mereka, padahal tidak terjadi susuatu apapun padanya selain mimpi aneh bertemu sosok hitam, tapi itu kan hanya mimpi, pikirnya dalam hati. Ia lalu membuka kunci kamarnya,

“Selamat pagi, . . . .” Andhika menyapa anak buahnya

“eh . . .Selamat pagi pak, panjang umur, kami barusan membicarakan bapak” Abi struktur engineernya menyapa gagap, yang lain juga terdiam sejenak melihat reaksi Andhika.

“kok kalian seperti melihat hantu saja . . , memangnya ada apa ?” Andhika memandang mereka satu persatu, yang dipandangi satu persatu menundukkan wajahnya.

“Enggak pak, apa bapak tidur nyenyak semalam . . ?” Abi bertanya lagi mencoba mencairkan suasana.

“Ya lumayanlah, sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu dari saya” Andhika berkata, sambil tersentum kecil dan pandangannya masih menyapu mereka satu persatu, yang diajak bicara saling pandang dengan yang lain.

“Benar pak, mohon maaf sebelumnya, sebenarnya sejak kemarin kami ingin memberitahukan bapak, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana . . “ pak Dedi sebagai yang paling tua diantara yang lain ikut bicara.

“Mengenai apa . . . ?” Andhika pura – pura mengernyitkan alisnya, padahal sesungguhnya ia sudah dapat menyimpulkan apa yang akan dibicarakan oleh anak buahnya paling tentang angkernya rumah itu, padahal sebenarnya ia adalah orang yang paling bertanggung jawab, bukankah ia orang pertama yang memutuskan untuk mengontrak rumah itu . . ?.

Pak Dedi lalu bercerita panjang lebar mengenai angkernya rumah itu, masing – masing karyawan dari team yang datang terlebih dahulu semuanya pernah melihat penampakkan makhluk halus, ada yang berupa wanita cantik ada yang berupa pocong, ada yang berupa sosok hitam, bahkan ada yang didekap ketika sedang mandi. Namun pak Dedi menjelaskan lebih lanjut bahwa daerah yang paling angker dirumah itu adalah kamar depan dengan kamar mandinya bernuansa dingin, bahkan pak Hendra yang terkenal berani pernah didekap dari belakang ketika sedang mandi, dan membuat pak Hendra berteriak – teriak minta tolong, namun teman – temannya tak dapat menolong karena pintu kamar mandi itu terkunci dengan sendirinya, padahal pak Hendra tidak pernah merasa menguncinya.

“Jadi kalian memberikan kamar yang paling angker itu kepada saya ?” Andhika pura – pura marah dan minta pertanggung jawaban, padahal dalam hati ia tersenyum sendiri, ia bukanlah seorang penakut, itu yang ia percayai selama ini.

“Bukan begitu pak, yang benar adalah selama ini kami tidak ada yang berani menempati kamar tersebut, sehingga karena bapak datangnya paling belakang maka kamar itulah yang tersisa, untuk itu kalau bapak tidak berkenan maka sebaiknya kamar itu kita jadikan gudang saja pak” pak Dedi mencoba menjelaskan mencari pembenaran.

“Enggak . . . enggak usah, sepertinya saya baik – baik saja dikamar itu, lagi pula hantunya bisa saya ajak kerjasama untuk memantau pekerjaan kalian” Andhika berkata sambil tersenyum.

Semua yang ada merasa lega, karena mereka pikir Andhika akan marah karena tidak diberitahu mengenai keankeran kamar tersebut.

“Terima kasih pak, kami yakin bapak pasti bisa mengatasi hal itu, tapi mohon hati – hati pak” pak Dedi kembali berkata tapi sekarang dengan nada lega.

“Insya Allah, cuma terus terang saya jadi penasaran ada apa sebenarnya, tolong pak Aris sebagai humas bisa mencari informasi dari tokoh – tokoh masyarakat didaerah ini mengenai apa yang pernah terjadi dirumah ini sehingga rumah ini menjadi angker seperti sekarang, karena dari cerita kalian tadi yang paling sering muncul adalah sosok hitam yang meminta tolong, terus terang semalam saya juga bermimpi bertemu dengan sosok itu” Andhika terpaksa menceritakan tentang mimpi semalam yang cukup menyeramkan.

“Siap pak, saya akan coba cari informasi, Jadi bapak juga sudah bertemu dengan sosok hitam itu ? . . . ia hantu wanita . . . ?” pak Aris berkata, ia juga pernah bertemu dengan sosok hitam itu tetapi belum sempat sosok itu mengeluarkan suara ia sudah lari ketakutan dan malam itu ia tidur dalam mobil di proyek. Andhika hanya mengangguk menjawab pertanyaan Aris.

“Oke, saya mandi dulu, nanti kita bertemu di proyek” Andhika mengakhiri pembicaraan.

“Baik pak, . . .” mereka melanjutkan sarapan pagi mereka, sambil membicarakan cerita Andhika tadi.

Hari kedua Andhika berada Cimahi, proyek berjalan lancar, saat ini sudah mulai dilakukan pembenahan infrastruktur tanah berupa pekerjaan Cut & Fill, alat – alat berat mulai didatangkan, beberapa warga sekitar dikoordinir dalam pekerjaan pembuatan pagar proyek serta keamanan, pada dasarnya warga yang mampu bekerja akan ditampung untuk bekerja di proyek ini sebagai tenaga harian lepas.

Pukul 21.00 Andhika baru pulang ke mess, saat mobil akan masuk halaman ia sempat melirik kerumah tetangga didepan berharap bertemu gadis cantik yang kemarin, namun gadis yang diharapkannya itu tidak ada.

Andhika sedang membaca didalam kamarnya ketika ia dengar suara air yang disiramkan ke tanaman, bergegas ia bangkit, merapikan rambutnya sebentar, lalu beranjak keluar. Benar saja kembali ia melihat gadis tetangganya itu sedang menyirami tanaman yang ada dihalamannya, masih dengan pakaian rapi seperti yang kemarin. Andhika segera keluar, mendekati gadis itu.

“Selamat malam, . . . “ ia membuka pembicaraan.

Gadis itu menoleh kearah Andhika, tanpa menjawab ia mengangguk kecil, Andhika benar – benar terpesona melihat kecantikannya, dadanya terasa berdegup kencang, belum pernah ia merasakan perasaan seperti ini bila berhadapan dengan wanita, gadis itu terasa begitu lembut dan baik, jauh berbeda dengan sikap kebanyakan gadis – gadis dewasa ini yang lebih terbuka dan ceplas – ceplos.

“Saya tetangga baru didepan rumah . . . apa Neng selalu menyirami tanaman dimalam hari ? karena saya lihat tadi malam Neng, juga sedang menyiram tanaman” Andhika berkata lagi

Gadis itu kembali menjawab dengan anggukkan kepalanya, matanya yang bening masih menatap Andhika, entah apa yang ada dihatinya.

“Saya Andhika, . . . siapa nama Neng . . . ?” Andhika bertanya lagi ia benar – benar ingin mendengar suara gadis itu.

“Yani, . . . .” gadis itu menjawab singkat.

“Boleh kapan – kapan saya bertamu kerumah . . . ?”

“Jangan . . .” kembali gadis itu menjawab singkat

“kenapa . . . ?” Andhika bertanya ingin tahu

“Jangan . . . “ gadis itu menjawab dan sepertinya sudah merupakan hal yang tidak bisa ditawar – tawar lagi.

“Kalau begitu kapan kita bisa bertemu lagi . . . ?” Andhika bertanya lagi, benar – benar merasa kecewa.

“besok . . .” gadis itu menjawab singkat lalu bergegas masuk kedalam rumah melalui pintu samping.

“Yani . . . “ Andhika mencoba memanggilnya, namun gadis itu tidak menoleh lagi.

Andhika kembali ke kamarnya dengan perasaan yang bercampur aduk, entah mengapa dua kali pertemuan singkat ia merasa sangat tertarik dengan gadis tetangga didepan rumahnya itu. Apakah aku sudah gila ??, pikirnya dalam hati, selama ini belum ada gadis yang begitu mempesona hatinya, dan belum ada yang bisa meluluhkan hatinya seperti saat ini, padahal ia sangat disukai gadis – gadis, karena wajahnya yang tampan serta postur tubuhnya yang tinggi dan kekar, belum lagi kariernya yang cukup baik didunia konstruksi membuat banyak gadis tergila – gila padanya, tapi saat ini seolah hatinya benar – benar tertambat pandangan pertama dengan gadis Cimahi bernama Yani. Benar – benar aku sudah gila, . . . menjelang pagi ia baru dapat tertidur, didalam mimpi kembali ia bertemu dengan sosok hitam yang datang masih dengan permintaan yang sama.

Tak terasa hari demi hari berlalu, setiap malam Andhika selalu menyempatkan diri bertemu dengan Yani sesaat ia mendengar gemercik air menyirami tanaman, walaupun jamnya pun tidak menentu, terkadang pukul 01.00 malam, terkadang pukul 24.30, namun Andhika selalu setia menunggu, saat bertemu, Yani selalu mengenakan pakaian yang sama, ia begitu rapi dan anggun, apakah ia tidak punya pakaian lain yang layak ?, terkadang Andhika bertanya dalam hati, tentu saja ia tidak berani mengutarakannya.

Tak banyak hal yang bisa dibicarakan, karena gadis itu pendiam sekali, namun Andhika tak kekurangan akal, segala isi hatinya ia tuangkan dalam kertas surat berwarna biru muda yang wangi, maksudnya untuk menggugah hati si gadis dan menunjukkan bahwa ia menyukainya. Ternyata si gadis menyukai surat dari Andhika, dan kemudian membalasnya, tentu saja Andhika sangat senang menerima surat balasan dari sigadis, walaupun surat itu hanya bercerita tentang kehidupannya diwaktu kecil bersama saudara kembarnya Yanti. Saudara kembar ?, ternyata Yani mempunyai saudara kembar bernama Yanti ? pasti ia secantik Yani, pikir Andhika dalam hati.

Ini adalah malam ketujuh Andhika bertemu Yani, tak seperti biasanya kali ini Yani menemui Andhika dengan wajah yang sangat berduka, matanya berkaca – kaca menahan tangis, ia menyerahkan sepucuk surat kepada Andhika lalu menggenggam tangan Andhika erat – erat. Andhika merasakan kulit yang halus lembut bagai kapas, selama berhari – hari bertemu baru kali inilah mereka saling menggenggam tangan, tak ada kata – kata yang terucap karena memang seolah tidak ada yang perlu diucapkan. Genggaman tangan itu mengurai beribu makna namun juga menggambarkan kesedihan dan perpisahan. Yani kemudian berlari masuk kedalam rumahnya melalui pintu samping, meninggalkan Andhika yang berdiri terpaku, ia merasakan firasat yang tidak baik, apakah isi surat ini ? pikir Andhika dalam hati, apakah Yani marah karena ia mengutarakan perasaannya bahwa ia telah jatuh cinta pada Yani ?, apa salahnya dengan hal itu ?, apa salahnya dengan orang yang jatuh cinta ?, berbagai pikiran berkecamuk dalam hatinya. Segera ia bergegas menuju kamarnya untuk membaca surat Yani tersebut.

Andhika, aku sebenarnya juga sangat menyukaimu, namun suatu saat kamu akan mengerti bahwa kita tidak mungkin bersama, seandainya hari ini adalah kemarin, Seandainya kita bertemu beberapa tahun yang lalu, namun saat ini segalanya telah terlambat, walaupun aku sangat yakin engkaulah Dewa Penolongku. Andhika, kita tidak bisa bersama, namun satu hal yang perlu kau tahu, kau selalu ada dihatiku, dan aku mencintaimu, . . . Seandainya hari ini adalah kemarin

Yani

Surat itu singkat saja namun cukup bermakna dan meresahkan hati Andhika, mengapa mereka tidak bisa bersama ?, bukankah Yani mengatakan bahwa ia juga mencintainya ?, apakah Yani sudah menikah ?, atau ia sudah dijodohkan . .  ? atau apa lagi ?, kembali ia memperhatikan kata demi kata dari surat tersebut tetapi tetap saja ada beberapa hal yang tidak ia mengerti, mengapa didunia ini selalu saja ada cerita orang yang saling mencinta yang tidak dapat bersatu. . . ? Mengapa . . . . ?, pertanyaan demi pertanyaan serta kegalauan dalam hatinya membuat ia tidak bisa tidur sampai pagi harinya, matanya memerah dan wajahnya kusam.

“Pak, saya sudah mengumpulkan informasi yang bapak minta” pak Aris berkata pelan, karena dilihatnya atasannya ini sepertinya sedang banyak pikiran.

“Ya, apa saja yang pak Aris dapatkan ?” Andhika berkata tanpa menoleh, wajahnya menunduk lesu dan tangannya menopang di dagunya, jelas sekali ia sedang menahan beban bathin yang sangat berat.

Pak Aris lalu menceritakan tentang apa yang diketahuinya mengenai riwayat rumah ini.

Ternyata pada 40 tahun yang lalu, sekitar tahun 1965, pemilik rumah ini yaitu pak Kartiwa pernah dituduh menculik seorang gadis tetangga bernama Sri Widhiyani, motif penculikan itu adalah lamaran pak Kartiwa yang ditolak oleh Sri Widhiyani dan keluarganya, dikarenakan reputasi pak Kartiwa yang kurang baik, saat itu pak Kartiwa sempat mengancam akan tetap memaksakan kehendaknya dengan segala cara bila lamarannya ditolak, namun Sri Widhiyani tetap pada pendiriannya yaitu menolak lamaran pak Kartiwa.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut Sri Widhiyani menghilang dari rumahnya, keluarganya mencari kesana – kemari tanpa hasil, mereka kemudian melaporkan kejadian tersebut pada Kepolisian disertai kecurigaan bahwa pak Kartiwa adalah dalang semua ini, tiga hari kemudian pihak Kepolisian baru mendapatkan surat ijin untuk dapat menggeledah rumah pak Kartiwa, seluruhnya diperiksa, bahkan tanah di halamannya pun ikut digali dibeberapa tempat yang dicurigai, namun Sri Widhiyani tetap tidak ditemukan, dan pak Kartiwa akhirnya bebas dari segala tuduhan.

Tahun 1970 rumah itu dijual kepada keluarga Drajat Kosasih, sedangkan pak Kartiwa khabarnya pindah ke daerah Hegarmana. Sejak saat itu rumah itu tidak nyaman ditinggali dan terkenal dengan rumah berhantu, sebenarnya sudah sejak dulu keluarga pak Kosasih ingin menjual rumah itu, tetapi tidak laku sampai sekarang, itulah sebabnya rumah itu kemudian dikontrakkan dengan harga murah, itupun susah lakunya, karena cerita ini sudah sangat terkenal dikalangan masyarakat sekitar. Bila ada penghuninya paling lama hanya kuat selama 2 minggu sampai 1 bulan saja, segala upaya sudah dilakukan oleh keluarga Drajad Kosasih untuk membuat rumah itu layak didiami, namun semua usaha itu tidak membuahkan hasil, itulah sebabnya masyarakat sekitar cukup heran, karena Andhika dan kawan – kawan cukup nyaman tinggal disitu. Demikian pak Aris mengakhiri ceritanya.

Andhika mendengarkan dengan seksama, ia teringat akan cerita – cerita kriminal yang pernah dibacanya mengenai mayat yang disembunyikan dalam rumah dan sulit untuk ditemukan.

“Coba panggilkan Kris kemari . . .” Andhika berkata, Kris adalah juru ukur staff dari pak Dedi.

Tak berapa lama yang dipanggil datang.

“Ya pak, bapak memanggil saya . . . ?”

“Kris Tolong kamu lakukan pengukuran sisi luar bangunan ini, setelah selesai tolong kamu lakukan pengukuran dari sisi dalamnya, hasilnya masukkan kedalam Autocad, saya akan melihatnya siang ini” Andhika berkata dengan penekanan.

“Siap pak, sebelum makan siang hasilnya sudah saya serahkan pada bapak”

“Bagus, terima kasih Kris . . . “

Hari ini Andhika tidak datang ke proyek, hatinya masih memikirkan surat Yani tadi malam, sepanjang siang ini ia hanya tidur – tiduran di Mess, mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya.

Pukul 11.35, terdengar pintu kamarnya diketuk, Andhika beranjak membuka pintu, dilihatnya Kris berada didepan pintu sambil memegang hasil print denah rumah yang diminta Andhika pagi tadi.

“Ini pak, hasil yang bapak tugaskan pada saya” Kris menyerahkan tiga lembar kertas hasil print out. “memang dugaan bapak benar, terdapat perbedaan ukuran antara ukuran luar rumah dengan ukuran dalamnya, perbedaan itu menghasilkan ruangan seluas 1 x 3 meter atau 3 m2, memang kalau tidak menggunakan alat ukur yang baik serta melakukan pengukuran dengan seksama maka akan sulit untuk menemukan ruang tersembunyi itu di rumah yang luas ini” Kris menjelaskan lebih lanjut.

Andhika memperhatikan hasil pengukuran yang dilakukan Kris, pada gambar ke 3 Kris melakukan super impose antara ukuran luar dan ukuran dalam mengikuti koordinat – koordinat yang ada, hasilnya . . . terdapat ruangan tersembunyi diantara kamar mandi di kamar depan dan kamar mandi di kamar tengah.

“Bagus, hasil kerjamu Kris, jadi ada ruang rahasia antara kamar mandi ini” Andhika menunjuk ruangan antara kamar mandi yang ada di gambar yang dipegangnya.

“Benar pak, sekarang apa yang akan kita lakukan, apa kita bongkar pak ?” Kris bertanya lagi.

“Tolong sampaikan pada pak Zaenal, agar ia berkoordinasi dengan Polsek setempat, bila mungkin pihak kepolisian dapat mengirimkan utusannya untuk menyaksikan pembongkaran ruang rahasia ini, siapa tahu didalamnya terdapat kunci misteri yang selama ini melingkupi rumah ini”

“Apakah pemilik rumah perlu diberitahu pak . . . ?” Kris bertanya lagi.

“Boleh juga, minta pak Aris untuk menelpon pak Aldi agen Realty nya, serta pengurus lingkungan yang ada, bisa RT, RW atau pegawai Kelurahan” Andhika memberikan beberapa pengarahan.

“Siap pak, saya laksanakan . . . . “ Kris segera beranjak

Pukul 14.00 berbagai pihak yang diharapkan, ternyata hadir memenuhi undangan Andhika untuk menyaksikan pembongkaran ruang rahasia di rumah itu, mungkin dikarenakan misteri pada rumah itu telah lama menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Demikian pula dengan keluarga pak Kosasih pemilik rumah saat ini walaupun tidak dapat hadir namun mereka memperkenankan untuk melakukan pembongkaran pada rumahnya itu, karena ruangan tersembunyi itu memang tidak mereka ketahui keberadaannya sejak keluarganya membeli rumah itu, hanya saja keluarga Kosasih minta agar setelah dibongkar ruangan itu bisa dikembalikan seperti semula.

Berita akan dilakukan pembongkaran pada rumah itu rupanya tersebar dari mulut kemulut, sehingga banyak warga sekitar yang ingin ikut menyaksikan peristiwa tersebut, bahkan beberapa media terlihat ada yang datang untuk dapat meliput berita yang dinilai cukup menarik tersebut. Andhika memerintahkan pak Aris dan pak Zaenal untuk dapat mengkoordinasikan keamanan proyek bekerja sama dengan keamanan setempat serta polsek untuk menjaga hal – hal yang tidak diinginkan sehubungan dengan banyaknya masa yang datang ketempat itu.

Pukul 14.30 pembongkaran mulai dilakukan dengan membobol dinding kamar mandi yang ada di kamar tengah, hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kamar mandi yang ada di kamar tidur Andhika. Suara pukulan Jack Hamer terdengar bertalu – talu, dalam waktu sebentar saja dinding itu telah terkoyak menyisakan lubang yang cukup besar untuk dimasuki orang. Sesaat orang yang hadir menunggu mengendapnya debu yang mengepul tebal, perlahan – lahan mulai tampak apa yang ada didalamnya saat senter dinyalakan.

Walaupun telah mempersiapkan diri terhadap segala sesuatu yang mungkin didapati pada ruang rahasia itu, namun semua yang hadir disitu termasuk Andhika bergidik ngeri saat melihat tengkorak manusia berada dalam ruangan sempit itu, tangan kanannya memegang mata kalung didadanya, sebuah sweater yang sudah usang dan lapuk membungkus tulang dadanya serta bagian perut, demikian pula rok model rimpel selutut yang telah robek karena usang. Tengkorak itu pastilah dulunya mempunyai rambut lurus sebatas bahu, karena rambut itu masih ada didaerah tengkorak kepalanya. Disudut ruangan terdapat sebuah jerigen kecil yang telah kering berwarna putih, sepertinya dulu dipakai sebagai tempat air minum bagi sang korban.

“Para hadirin kita semua sudah menyaksikan pembongkaran ruang rahasia ini, mohon maaf dikarenakan dalam ruang rahasia ini terdapat tengkorak yang bisa dipastikan penyebab kematiannya adalah akibat penyekapan dan pembunuhan, maka wilayah kamar tengah ini untuk sementara waktu menjadi wilayah penyidikan polisi harap yang tidak berkepentingan dapat meninggalkan ruangan” Pak Kapolsek  dengan suara yang berwibawa menjelaskan secara singkat pada hadirin yang hadir. Hadirin yang hadir dalam ruangan tersebut perlahan keluar ruangan dengan berbagai macam perasaan dan pertanyaan yang berkecamuk dalam benak mereka, sedih, kasihan atas nasib si korban, sakit hati dan geram atas perlakuan pembunuh yang menyebabkan kematian si korban, serta rasa penasaran ingin mengetahui, identitas si korban, serta identitas pelaku yang menyekapnya.

“Pak Andhika, terima kasih atas kerja sama bapak yang telah membantu mengungkap adanya ruang rahasia ini” bapak Kapolsek, menyalami Andhika.

“Sama – sama pak saya senang bisa membantu” Andhika menjabat tangan pak Kapolsek sambil berkata lagi “Mohon saya bisa dikhabari hasil dari kasus ini pak, siapa korban yang malang itu.”

“Jangan khawatir pak, akan kami sampaikan hasil penyelidikan kami” Pak Kapolsek tersenyum ramah.

“Terima kasih pak, mohon maaf, saya mau beristirahat dulu, saya kurang tidur semalam” Andhika mohon diri pada pak Kapolsek

“Silahkan pak, kami masih akan bekerja disini beberapa waktu lagi, sebelum membawa korban ini untuk di otopsi di bagian Forensik”

Andhika menganggukkan kepalanya lalu beranjak menuju kamarnya, namun ia masih mendengar seseorang dalam kamar tengah itu berkata, “inisial pada kalung korban bertuliskan huruf SW pak”

Andhika tidak memperdulikannya lagi, karena kepalanya terasa semakin berat, kejadian demi kejadian seolah telah menguras banyak energinya, ia lalu merebahkan diri ditempat tidur menenangkan hatinya serta mempasrahkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta yang menguasai hati. Tak berapa lama kemudian ia sudah terlelap dalam mimpi.

Andhika merasa dirinya berada disebuah ruangan kerja yang Asri, lengkap dengan perbotan bergaya klasik, disudut ruangan terdapat sebuah meja tulis berwarna coklat tua, diatasnya terdapat beberapa kertas surat berwarna biru muda. Andhika melangkah kearah meja itu, ia sangat terkesima mendapati bahwa surat tersebut adalah surat yang ia sampaikan kepada Yani, tetangga depan rumah, apa maksudnya ini ?, pastilah aku sedang bermimpi . . . . ia menenangkan diri.

Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekat disusul pintu yang terbuka, dan kemudian sesosok bayangan hitam yang selama ini sering hadir dalam mimpinya datang menghampirinya dalam jarak kurang dari satu meter, tercium wangi bunga melati dari tubuh sosok hitam tersebut. Andhika hanya diam terpaku tak tahu apa yang harus dilakukan, jantungnya berdegup kencang, aku sedang bermimpi . . . aku sedang bermimpi, berulangkali ia menenangkan dirinya.

“Andhika . . . jangan takut, aku justru datang untuk mengucapkan terima kasih” sosok hitam itu berkata.

“Terima kasih . . . ?” Andhika bertanya lirih

“Benar engkau telah menemukan jasadku, aku berharap selanjutnya aku dapat beristirahat dengan tenang, dan pelaku kejahatan ini dapat ditangkap” sosok itu berkata lagi, kali ini suaranya halus dan merdu.

“Siapa pelakunya . . . ?” Andhika bertanya lagi

“Pelakunya adalah Kartiwa, ia menyekapku dalam ruangan sempit dan gelap itu, rasanya seperti dikubur hidup – hidup, ia hanya memberikan bekal 1 jerigen kecil air minum, pada tiga hari pertama Kartiwa selalu datang dibalik dinding untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi istrinya yang ke 3, begitu seterusnya, pada hari ketiga ia berkata bahwa bila aku tetap tidak berubah pikiran, maka beberapa hari kedepan ia akan sulit untuk menemuiku, dikarenakan polisi sudah curuga dan sedang mempersiapkan surat penggeledahan rumah itu, aku tidak menjawabnya karena aku berharap polisi dapat menemukan aku disini, entah pada hari keberapa kudengar sayup – sayup sepertinya ada kegaduhan dirumah itu, aku menduga itu pastilah Polisi yang datang, aku mencoba berteriak, namun ternyata suaraku telah serak dan tenagaku telah habis, akhirnya aku mati sia – sia dipenuhi dendam dan amarah ditempat itu” sosok itu menceritakan cerita menjelang kematiannya.

“Berarti kamu adalah Sri Widhiyani, gadis yang hilang itu . . . ?” Andhika berkata, hatinya ikut sedih mendengar penuturan sosok hitam itu alias Widhiyani.

“Benar Andhika, tidakkah kamu mengenalku . . . ?” Sosok hitam itu berkata lagi, Andhika merasa mengenal suara itu.

“Mengenalmu . . . ?” Andhika berkata heran sambil mengernyitkan keningnya, bukankah kejadian hilangnya Widhiyani ditahun 1965 ?, sedangkan ia baru lahir ditahun 1973. Namun suara itu sepertinya ia kenal walaupun ia tidak berani menduganya.

“Andhika perhatikanlah . . . .” sosok hitam alias Widhiyani itu mulai membuka kain penutup kepala serta cadar yang dipakainya.

Andhika memperhatikan dengan jantung yang berdegup 2 kali lebih kencang, perlahan terlihat rambut hitam lurus sebahu, dan ketika cadar itu dibuka . . .

“Yani . . . , kamu Yani . . . , bagaimana bisa . . . ?” Andhika tak bisa menahan perasaan hatinya demi melihat sosok hitam itu adalah Yani pujaan hatinya.

“Benar Andhika, itulah sebabnya aku katakan kita tidak mungkin bersama” Yani berkata matanya berkaca – kaca.

Andhika tidak bisa menahan dirinya lagi ia memeluk Yani dengan erat sambil berkata “Yani . . . Yani tidak mungkin ini terjadi, Yani . . . aku mencintaimu . . . bagaimana ini ?”

“Aku juga mencintaimu Andhika . . . “ Yani berkata sambil membenamkan wajahnya di dada Andhika

Kemesraan itu tak berlangsung lama karena sayup terdengar suara memanggil – manggil, “Andhika . . . pak Andhika . . .” berulang – ulang suara itu memanggil – manggil semakin keras membuat pelukan Andhika mulai terlepas.

“Yani . . .” Andhika berteriak kencang

“Andhika . . .” Yani pun memanggil namanya

Sesaat kemudian kekuatan yang dahsyat seolah menyeret Andhika kembali kealam nyata, saat terbangun ia masih mendengar suara Yani memanggil – manggilnya . . .”Andhika . . . Andhika . . .”

“Pak Andhika . . . . . , anda mengigau dan berteriak – teriak, kami mengkhawatirkan anda pak” pak Aris telah berada disisi pembaringan dan dibelakangnya ada beberapa orang lagi.

“Saya tidak apa – apa biarkan saya sendiri . . . “ Andhika menjawab lesu.

“Baik pak, kami permisi . . . “ pak Aris mohon diri diikuti teman – temannya yang lain.

Andhika menghela napas panjang, mimpinya tadi benar – benar nyata dan menguak tabir yang selama ini tersimpan rapat, ia tak habis mengerti tentang apa yang telah dialaminya. Bila benar Yani adalah Widhiyani bagaimana ia ada setiap malam menyirami bunga ?, bahkan membalas suratnya ?, surat . . .  . ! benar dimana surat itu . . .? Andhika bergegas ke meja tulisnya, ia menyimpan surat – surat Yani pada sebuah map berwarna biru. Ia mencari dan kemudian mendapatkan dan kemudian membuka map itu, namun didapatinya surat Yani ternyata telah berubah menjadi kertas kosong berwarna kekuningan karena usang, seluruh kertas itu hanyalah kertas kosong belaka, tak terasa Andhika menitikkan air mata, begitu besar rasa kehilangan yang dialaminya, bahkan surat Yani yang ingin ia simpan sebagai kenangan hanyalah kertas kosong belaka.

Saat Andhika mencoba mengunjungi tetangga depan rumahnya ternyata rumah itu adalah rumah kosong, menurut informasi rumah itu dulunya memang adalah rumah Widhiyani, saat ini perawat rumah hanya datang sewaktu – waktu. Kini Andhika yakin bahwa apa yang diungkapkan Widhiyani atau Yani dalam mimpinya itu adalah hal yang sebenarnya, dan selama ini ia telah jatuh cinta pada gadis yang hidup pada puluhan tahun yang lalu.

Tak terasa 2 minggu telah berlalu sejak pembongkaran ruang rahasia dirumah kontrakkan Andhika, berita di media menceritakan bahwa pak Kartiwa yang saat ini telah berusia 72 tahun ditangkap dikediamannya di Hegarmana, dalam penyidikan pak Kartiwa mengakui segala perbuatannya, bahwa ia telah menyekap Widhiyani pada ruang rahasia dirumahnya itu, awalnya ia hanya ingin menakut – nakutinya saja agar Widhiyani mau menerima menjadi istrinya yang ketiga, namun karena kepolisian mulai menaruh curiga terhadapnya maka ia tidak lagi berani untuk mendekati ruang rahasia itu, apalagi saat polisi mengaduk – aduk rumahnya mencari Widhiyani. Seiring waktu berlalu ia sempat kembali ke ruang rahasia itu, ia coba mengetuk – ngetuk tembok namun tidak ada jawaban, selanjutnya ia kehilangan keberanian untuk membuka ruang rahasia itu. Pak Kartiwa juga mengatakan sesungguhnya ia ingin menyerahkan diri pada polisi karena sepanjang sisa hidupnya selalu dihantui mendiang Widhiyani, namun istrinya yang lain dapat mencegah niat pak Kartiwa ini, pada hari ke 8 pak Kartiwa ditahan di tahanan polisi ia menghembuskan napasnya yang terakhir.

Pagi itu Andhika sedang bersiap – siap untuk berangkat ke proyek saat pak Tatang satpam Mess menyampaikan ada sepasang suami istri yang ingin bertemu. Sepasang suami istri itu berusia menjelang 60 tahunan, sang suami terlihat gagah dan rapi mengenakan hem kotak – kotak lengan pendek, sedangkan yang wanita masih terlihat cantik, ada yang menarik perhatian Andhika yaitu sorot mata si wanita sorot mata itu begitu lembut mengingatkannya akan seseorang. Suami istri itu berdiri demi melihat kedatangan Andhika.

“Selamat pagi, maaf mengganggu, apakah saya berhadapan dengan Andhika . . . ? “ wanita itu bertanya.

“Benar, saya Andhika, ibu si . . . .” belum sempat Andhika menyelesaikan kalimatnya wanita itu telah menghambur memeluknya, Andhika hanya terpaku memandang pada suami wanita itu, yang dipandang mengangguk – angguk kecil. Beberapa saat kemudian wanita itu dapat menenangkan dirinya.

“Maafkan saya, saya Widhiyanti saudara kembar Widhiyani, ini suami saya . . Abdullah Satar, kami datang dari Malaysia” wanita itu menjelaskan. “kami datang kemari untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang Andhika perbuat sehingga akhirnya dapat mengungkap hilangnya saudara kembar saya yang menjadi misteri dalam waktu 40 tahun, sekali lagi terima kasih Andhika”

Mereka bercakap – cakap beberapa lama, Widhiyanti menceritrakan berbagai hal tentang keluarganya, bagaimana sejak kejadian itu keluarganya merasa sangat terpukul dan pindah ke Jakarta, sedangkan rumah mereka yang berada didepan rumah kontrakan Andhika itu dibiarkan kosong, hanya seminggu sekali pak Asep yang ditugaskan mengurus rumah itu datang untuk memperbaiki ini itu, serta merawat taman yang ada. Sampai saat ini pak Asep masih menjalankan tugasnya dengan baik.

Widhiyanti juga menceritakan bagaimana ia pertama kali bertemu dengan suaminya yang orang Malaysia dan kemudian menetap di Malaysia, saat ini mereka telah dikaruniai satu orang putra dan dua orang putri. Selain itu berbagai kenangan tentang Widhiyani juga diceritakan, yaitu kebiasaan Widhiyani yang suka menyiram tanaman dimalam hari, terutama bila hatinya sedang gundah. Ia juga menceritakan tentang Widhiyani yang lembut dan selalu berpakaian rapi.

Andhika cukup terhibur dengan kedatangan keluarga ini, dan dapat mendengar langsung dari saudara kembar orang yang dicintainya, walaupun antara dirinya dan Widhiyani akhirnya harus terpisah oleh ruang dan waktu.

“Andhika, beberapa hari sebelum kami berangkat ke Indonesia saya bermimpi bertemu Widhiyani, ia meminta saya untuk memberikan sebuah fotonya kepadamu, walaupun foto ini merupakan hasil reproduksi dari album kenangan keluarga kami, kami harap Andhika dapat menerimanya, karena ini merupakan pesan darinya” Widhiyanti memberikan sebuah foto yang dilihat dari ukurannya merupakan hasil reproduksi dari foto Polaroid. Didalam foto itu terlihat Widhiyani berdiri didepan mobil Chevrolet model jaman tahun 60an dengan mengenakan Rok rimpel warna biru tua dengan motif bunga serta Sweater warna crem dengan kerah kemeja warna putih mencuat dari kerah sweaternya.

“Benar ini Yani yang pernah saya temui . . . “ Andhika menggumam pelan, ia lalu membalik foto itu, dibelakang foto itu terdapat tulisan, 
Seandainya hari ini adalah kemarin, dari Yani hanya untuk Andhika.
Andhika memandang Widhiyanti dengan heran demi melihat tulisan itu.

“Jangan heran Andhika, itu adalah tulisan tangan saya, namun Yani yang mendiktekannya pada saya dalam mimpi, dan meminta saya untuk menyerahkannya kepadamu” Widhiyanti menjelaskan

Demikian keluarga itu akhirnya berpamitan dan sekali lagi mengucapkan terima kasih pada Andhika dan berharap suatu saat Andhika bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah mereka di Johor Malaysia.

Satu tahun kemudian Andhika berkunjung ke Malaysia untuk menyaksikan secara langsung GP Formula 1 di Sirkuit Sepang, dalam perjalanan menggunakan Malaysian Airline, ia terkaget – kaget melihat Pramugari yang menyambutnya dipintu masuk pesawat mempunyai wajah dan postur tubuh yang mirip sekali dengan Yani.

“Kamu Yani . . . ?” secara spontan ia menyapa

“Maaf, bapak salah orang, nama saya Winnie, . . .” pramugari itu menjawab sambil tersenyum . . . , manis sekali . . . seperti Yani.

“Oh, . . . maafkan saya . . . “ Andhika berkata kikuk, sadar akan kebodohannya, mana mungkin Yani akan hidup kembali . . . ?

“Tidak, apa . . . silahkan pak . . .” kembali pramugari itu tersenyum

Setelah pesawat lepas landas, Andhika memasang Headphone yang telah disediakan dipesawat itu, terdengar sebuah lagu dari grup musik ADA BAND mengalun ditelinganya

Kekasihku tersenyumlah, bawaku keduniamu . . .
Jadikan aku, Raja bagimu, dalam Istana hatimu . . .
Walau kini kau tak lagi, temani ragaku ini . . .
Cintaku hanya untukmu, kau seorang . .
 . .

- TAMAT - 

Cihanjuang - Cimahi, Agustus 2004.

by. Alamsyah Mangandaralam
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Ikuti cerita lain dari Alamsyah Mangandaralam lainnya :

"Terdampar dimasa depan "

 
Link Iklan:
WISATA HATI
Mari ikutan berdakwah lewat web ini. Salurkan rizki Anda di DDW (Donasi Dakwah lewat Web)
BAKUL ONLINE
Pusat Belanja Online terpercaya dan dikelola secara profesional, harga dan kualitas terjamin. Distributor welcome.
IKAMISA.ORG
Bila anda adalah Alumni SMA Negeri 1 Malang, ada baiknya anda mendaftarkan diri di situs resmi Ikatan Alumni Mitreka Satata, Ayo Rek, "Bersatu Kita Kuat"
MER-C
Kunjungi Website kami, salurkan sumbangan anda di tempat yang tepat
AYO MAKMURKAN MASJID
Jangan biarkan Masjid masjid menangis, ayo kita ramaikan masjid, sekaligus untuk menolak bencana, ikuti komunitasnya di Facebook "Ayo makmurkan Masjid".

We have 79 guests online

Beselstudio.com

JA slide show
Links :
GPSOKE.COM
Sedia CD Installasi Aplikasi GPS untuk HP yang Support GPS seperti Nokia E71, Samsung C6625, dll Hanya Rp 75.000,- saja sudah termasuk ongkos kirim untuk daerah Jawa Bali. keterangan lebih lanjut hubungi : info@gpsoke.com. catatan Aplikasi ini tidak membutuhkan pulsa dalam penggunaannya.
PRIMA ARCHITECTURE
Kami membantu mewujudkan keinginan Anda akan rumah yang ideal. Mulai dari tahap disain arsitektur sampai pelaksanaan fisk bangunan.