Home ARTIKEL Cerita Bosku dan Kucingnya

Bosku dan Kucingnya

PDF
Cat

“Hai aku sekarang punya kucing peliharaan lho” Anggia membuka pembicaraan begitu tiba dikantor pada senin pagi itu, teman sebelah mejanya si Ririn sudah tiba terlebih dahulu, dan sedang membuka – buka sebuah Koran gossip, saat itu memang belum jam 08.30 waktu mulainya jam kantor.

“Warnanya enggak umum, coklat  dan campuran kopi susu, bulunya lebat dan tebal, kayaknya keturunan Persia” Anggia meneruskan ceritanya tanpa memperhatikan ekspresi Ririn yang sedikit bengong karena Anggia terus mengoceh tentang kucing barunya itu.

“Bentar – bentar dulu, . . . kamu baru beli Kucing, dapat nemu, atau nyolong punya orang ?” Ririn yang sedikit kesal karena tidak diberi kesempatan berbicara, segera menimpali.

“Enggak lah Rin, kucing itu datang sendiri ke teras rumahku hari sabtu kemarin, kasihan banget keadaannya waktu itu, badannya menggigil dan matanya tertutup, pertama sih aku kira buta, ternyata itu adalah luka yang mengering, sekarang udah bisa melihat lagi, aku sudah tanya ke tetangga kanan dan kiri tetapi ternyata itu bukan kucing mereka”

“Sekarang kucingnya masih sakit ?, apa ia mau makan . . .?” Ririn mulai bersimpati akan nasib kucing malang itu.

“Sekarang sudah agak baikan, tetapi ia masih tidak mau makan dan tidak mau digendong, jadi tiduran terus, aku memberinya susu 3 kali sehari, syukurlah ia mau meminumnya, Bibiku juga ikutan merawatnya” Anggia berkata sambil matanya menerawang teringat akan Kucing Persia itu.

Belum sempat mereka bercakap – cakap lebih lanjut, terdengar suara menyapa mereka,

“Selamat pagi . . .” ucap suara itu

“Selamat pagi pak . . .” Ririn berkata sambil merapikan posisi duduknya.

Anggia segera membalikkan badannya dan ternyata disitu sudah berdiri Pak Bramantyo, Boss perusahaan itu, ia memang terkenal selalu datang pagi – pagi sebelum jam kantor dimulai, itulah sebabnya banyak karyawan yang juga berusaha untuk datang sebelum jam kantor agar konditenya menjadi baik.

“Eh . . . selamat pagi pak . . .” Anggia menyapa dengan sedikit kikuk, bagaimanapun juga sebagai seorang gadis, harus ia akui bahwa sosok pak Bramantyo ini sangat menarik. Pak Bramantyo memandangnya sejenak dengan sinar mata yang tajam sebelum mengangguk kecil dan berlalu. Anggia mengikuti langkah pak Bramantyo dengan sudut matanya, hayalannya menerawang, seandainya saja ia punya kekasih seperti pak Bramantyo ini.

Wanita mana yang tak tertarik sengan sosok seperti pak Bramantyo ini ?, ia memenuhi segala kriteria yang diimpikan wanita. Gagah, tampan, berwibawa, dan memiliki segala kemapanan dunia, apalagi saat ini ia adalah seorang Duda,  sayangnya ia termasuk type pria yang dingin, banyak pegawai wanita di kantor ini dan juga relasi bisnis yang tertarik, berusaha merebut perhatiannya, namun semua itu dianggap hanya angin lalu saja oleh pak Bramantyo.

Dinginnya sikap pak Bramantyo ini dimulai sejak kehilangan istrinya sekitar 5 tahun yang lalu. Sejak itu sikapnya berubah menjadi dingin dan murung. Apalagi 3 bulan sejak istrinya hilang itu, ibu mertuanya yang sangat dihormatinya sebagai ibunya sendiri, meninggal karena kecelakaan didaerah Puncak. Menurut khabarnya kejadian beruntun itu telah membuat pak Bramantyo menjadi bersedih hati sampai saat ini.

Namun ada juga isu lain yang berkembang, yaitu sebenarnya pak Bramantyo telah membunuh istrinya sendiri karena berselingkuh dengan sopir pribadinya, isu ini bahkan pernah membuat pak Bramantyo harus mengalami diperiksa kepolisian selama beberapa hari, namun tidak ada satupun bukti yang bisa membuatnya dijadikan tersangka. Bahkan Ibu mertuanya juga membelanya dan mengatakan bahwa anaknya telah pergi entah kemana. Namun bagaimanapun juga hilangnya istri pak Bramantyo tanpa membawa barang – barang bahkan pakaian dari rumah mewah mereka, telah menjadi misteri dan pembicaraan sampai saat ini.

Anggia sedang memikirkan mengenai misteri diseputar pak Bramantyo ketika telpon dimejanya berdering.

“Anggia, . . kamu dipanggil pak Bram untuk menghadap” Hani, sekertaris pak Bram memeberitahukan.

“Ada, . . . apa . . . ?” Anggia yang merasa kaget, karena ia dipanggil oleh orang yang sedang ada dalam pikirannya mencoba untuk bertanya dan mengulur waktu.

“Ya mana aku tahu . . . ayo cepat, sekarang kata beliau, siapa tahu penting . .” Hani menutup telpon, membiarkan Anggia berpikir sendiri.

“Aduh ada apa ya, . . .” pikir Anggia dalam hati, ia mengambil File Report pekerjaan terakhirnya, buku catatan dan pena, lalu melangkah keruangan pak Bram, Hani langsung menyuruhnya masuk.

Ruangan itu Cukup besar, Sebuah meja kerja yang besar, satu set peralatan komputer menghias salah satu sudut ruangan, disisi lainnya terdapat Layar Presentasi, meja Rapat kecil dilengkapi dengan sebuah LCD Proyektor, ditengah ruangan terdapat satu set kursi tamu dengan desain minimalis, sedangkan dinding – dinding ruangan itu dilapisi rak buku dari kaca yang penuh dengan koleksi buku pak Bramantyo.

Pak Bramantyo sedang duduk menuliskan sesuatu dimeja kerjanya ketika Anggia mengetuk pintu dan berdiri didepan pintu.

“Masuk Anggia, silahkan duduk. . .” pak Bramantyo berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang ia tulis. Anggia lalu masuk dan duduk didepan pak Bramantyo, ia masih menerka –nerka apa yang akan disampaikan oleh pak Bramantyo.

“Katanya kamu baru menemukan Kucing Persia warna coklat ?” pak Bramantyo berkata tanpa memandangnya, karna masih asyik  menuliskan beberapa catatan.

“Benar pak, kok bapak tahu . . . ?” Anggia berkata heran mengapa Bossnya ini tertarik dengan masalah Kucing Persia yang ia temukan.

“Aku dengar pembicaraanmu tadi pagi . . .” pak Bram menghentikan pekerjaannya, lalu melanjutkan sambil memandang tajam pada Anggia, masih dengan pandangan yang dingin seperti biasanya “Ciri – ciri kucing itu persis seperti kucing peliharaanku yang hilang beberapa hari ini, dimana kautemukan kucing itu ?”

Anggia lalu menceritakan kejadian bagaimana kucing itu datang sendiri kerumahnya, dan saat ini masih dalam perawatan olehnya.

“Pak kalau memang itu Kucing peliharaan bapak, silahkan saja kalau bapak mau mengambilnya” Anggia menutup ceritanya.

Pak Bramantyo mendengarkan penuh perhatian, ada kesedihan tergambar dari raut wajahnya yang tampan. Pak Bramantyo lalu meminta Anggia agar sepulang kantor bisa pulang bersamanya sekalian ia ingin melihat Kucing yang ditemukan Anggia itu.

Sekembali ke meja kerjanya beberapa temannya menanyakan kepadanya tentang dipanggilnya Anggia ke ruangan pak Bram. Anggia menceritakan kepada mereka keheranannya, bahwa ternyata ia dipanggil bukan untuk urusan kantor tetapi justru urusan kucing yang ia temukan.

Namun ibu Ria staff senior dikantor itu menerangangkan bahwa hal itu tidaklah aneh, karena sejak kehilangan istrinya, pak Bram memang memelihara seekor Kucing Persia yang amat disayangnya, bahkan kucing itu dinamai sama seperti nama Istrinya. Tentu saja bila kucing itu saat ini hilang pasti pak Bram sangat merasa khawatir dan kehilangan.

Bagi Anggia penjelasan itu semakin membuatnya heran akan perilaku bossnya itu, mengapa nama istri yang amat dicintainya harus diabadikan dalam nama kucing ?, . . .benar – benar aneh, pikir Anggia.

Pukul 15.00 pak Bramantyo menghubungi Anggia, dan menyatakan bila tidak ada pekerjaan penting lainnya ia minta agar saat itu Anggia bisa mengantarkannya untuk melihat Kucing yang ditemukan Anggia. Anggia menyanggupi, karena sebenarnya pekerjaannya untuk hari itu telah diselesaikannya.

Tidak banyak yang mereka bicarakan dalam perjalanan pulang itu, keduanya sibuk dengan pikiran masing – masing.Sesampai dirumah Anggia, pak Bramantyo langsung meminta untuk melihat kucing Persia itu.

“Olin…” pak Bramantyo berucap perlahan, “Benar, ini Olin Anggia . . ini Olin“ ia tak dapat menahan keharuannya, matanya berkaca – kaca.

Anggia jadi ikut terharu melihat pak Bramantyo berusaha menahan kesedihannya, Lelaki gagah yang dikaguminya itu ternyata mempunyai sisi lain yang lembut, kalau tidak bisa dikatakan cengeng, apakah sebenarnya ia adalah laki – laki yang romantis ?, pikir Anggia dalam hati.
 
Pak Bramantyo mengelus – elus kepala kucing itu dengan perlahan dan penuh kasih sayang, adegan itu berlalu beberapa lama sedangkan Anggia hanya diam terpaku dan tak mampu berkata – kata, ia tak mau merusak suasana dan gejolak hati yang dialami Boss nya ini.
 
Selanjutnya Pak Bramantyo meminta Anggia untuk menemaninya mencari Dokter Hewan yang baik sekaligus membawa ‘Olin” si Kucing Persia itu pulang.

Anggia berpikir, betapa beruntungnya kucing itu, mendapat perhatian laki – laki gagah seperti pak Bramantyo itu, apakah ia juga perhatian seperti ini terhadap istrinya ? . . . lagi – lagi pikirannya menerawang.

Sepulang dari Dokter Hewan, pak Bramantyo mengajak Anggia kerumahnya untuk membawa ‘Olin” karena sepertinya ‘Olin” lebih tenteram berada didekat Anggia selama perjalanan itu. Anggia menyanggupi saja sekaligus ia memang ingin tahu bagaimana rumah Bossnya ini.

Rumah itu luas dan besar, segalanya rapi tertata, tidak ada yang terlalu istimewa, yang paling istimewa adalah kamar “Olin” sikucing itu. Kamar itu besar dan mewah, sebuah tempat tidur besar berseprai merah bercorak bunga berada ditengah – tengahnya, dinding – dinding kamar penuh dihiasi foto – foto dari istri pak Bramantyo, sebuah lemari pakaian 5 pintu berada disalah satu dinding kamar, seluruh kelengkapan kamar seperti TV dan lain – lain layaknya kamar hotel bintang 5 ada disana. Benar – benar kamar yang sangat mewah, jauh sekali dengan kamarnya yang sederhana.

“Terima kasih Anggia kau telah menemukan Olin untukku” pak Bramantyo berkata, kali ini tidak ada lagi kesan angker yang biasa ada dalam sikapnya, Anggia malah melihat pak Bramantyo sebagai seorang laki – laki yang rapuh, murung dan berduka. Anggia ikut prihatin dengan semua itu, walaupun ia tidak terlalu bisa menyelaminya.

“Sama – sama pak, saya senang bisa membantu bapak “ Anggia berkata.

“Kamu pulang diantar pak Hasan saja ya . . ?” pak Bram berkata, pak Hasan adalah sopir pak Bram yang menggantikan pak Tikno sopirnya lamanya yang tidak tahu berterima kasih, membalas kebajikan pak Bram dengan berselingkuh dengan istri bossnya ini, begitu yang didengar Anggia dari teman – teman kantornya.

“Ia pak, tidak apa – apa, kalau tidak ada yang bapak perlukan lagi dari saya saya pamit pulang” Anggia yang merasa kikuk berada dirumah besar itu mohon diri.

“Baiklah aku antar kau kedepan” pak Bram mempersilahkan, mereka berjalan beriringan, namun belum sampai ke pintu kamar itu, terdengar si ‘Olin’ mengeong perlahan. Anggia yang sebenarnya sudah mulai sayang terhadap Olin menghentikan langkahnya, ia meminta ijin pada pak Bram untuk menyapa Olin, sebelum ia pulang. Pak Bram menganggukkan kepalanya, Anggia lalu kembali menghampiri Olin dan mengelus kepalanya dengan kasih sayang.

“Olin aku pulang dulu ya, . . . semoga kita bisa berjumpa lagi” kucing itu mengeong sambil mengerak – gerakkan kepalanya, entah mengapa Anggia merasa bahwa pertemuan itu adalah pertemuan terakhir mereka, karena menurut Dokter Hewan tadi hanya suatu keajaiban yang dapat menyelamatkan Olin, rupanya sebelum sampai di rumah Anggia Olin telah tertabrak sebuah kendaraan entah sepeda motor atau apa sehingga ia terpental dan mengalami luka yang cukup parah.

Tak terasa sudah satu minggu sejak kejadian pak Bramantyo mengambil Olin, dan selama itu juga pak Bramantyo tidak masuk kantor tanpa suatu alasan yang pasti, namun melihat kejadian sebelumnya Anggia menebak pasti pak Bramantyo sedang menunggui kucing kesayangannya itu.

Sekembalinya dari istirahat makan siang, Ririn menyampaikan pesan bahwa ia dicari pak Hasan, sopirnya pak Bramantyo, saat ini ia menunggu ditempat parkir. Ririn juga menanyakan pada Anggia ada urusan apa sampai – sampai sopirnya pak Bramantyo mencari Anggia ?, Anggia hanya menjawab tidak tahu, karena memang ia tidak tahu.

“Bapak mencari saya . . . ?” Anggia bertanya, setelah ia menemukan pak Hasan sedan tiduran di Mobil BMW Biru tua seri 7 terbaru itu.

“Iya non, non Anggia dipanggil pak Bramantyo kerumahnya . . “ pak Hasan menjelaskan.

“Kalau boleh tahu ada apa ya pak . . . ?”

“Saya sendiri tidak tahu pasti non, tapi mungkin berhubungan dengan kematian Olin”

“Apa . . .?, Olin mati . . .?” entah mengapa Anggia merasakan suatu kesedihan, suatu kesedihan yang membuatnya menitikkan air mata, ternyata Olin yang lucu itu sudah mati.
“kalau begitu kita langsung kesana pak,”

“Apa non tidak membawa barang non sekalian ?, biar nanti langsung saya antar pulang kerumah ?”

‘Tidak usah pak . . . .”

Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di rumah pak Bramantyo, si tuan rumah sedang duduk diteras belakang rumah dengan wajah muram.

“Terima kasih Anggia, kamu mau datang” pak Bramantyo menyapa singkat

“Dimana Olin . . . pak ?”

“Mari kuantarkan kau ke peristirahatannya . . .” pak Bram mengajak Anggia kehalaman belakang rumah itu. Sebuah gundukan tanah disertai nisan terbuat dari kayu, bertuliskan telah meninggal dunia seseorang yang sangat kucintai Caroline, lahir 5 April 1972, wafat 27 Juni 2005. Aneh sekali apakah benar kucing itu berusia 33 tahun ?, Anggia berpikir dalam hati, bukankah kucing hanya berusia sekitar 10 tahun saja ?, namun hal ini tidak berani ia tanyakan kepada Bossnya ini. Ia lalu mengusap – usap nisan kecil itu, membayangkan penderitaan Olin sebelum meninggalnya tak terasa air matanya kembali menitik.

“Anggia, . . . ayo kita masuk kedalam, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu” pak Bram mempersilahkan Anggia untuk kembali masuk kedalam rumah.

Anggia menuruti ajakan itu, kebetulan hari menjelang hujan, namun dalam hati ia bertanya ada apalagi yang akan dibicarakan Bossnya ini ?, mereka duduk diruang keluarga, wajah pak Bram terlihat serius sekali, karena itu Anggia juga serius untuk menyimak apa yang akan disampaikan pak Bram.

“Anggia, tidakkah kamu merasa aneh dengan perlakuanku terhadap Olin ?” pak Bram membuka pembicaraan,

“Eh . . . enggak, . . . eh . . . iya juga sih, . . . saya agak heran, orang sesibuk dan sepenting bapak, kok begitu perhatian terhadap seekor kucing ?, walaupun itu kucing Persia yang sangat cantik” Anggia berkata terbata sambil sesekali memperhatikan ekspressi pak Bram, bagaimanapun ia takut salah bicara.

“Wajar saja kalau kamu merasa heran, aku akan menceritakan suatu rahasia besar keluargaku, kamu boleh percaya boleh tidak, namun ini juga atas permintaan Olin kepadaku” pak Bram berkata serius, Anggia semakin tak mengerti, pak Bram lalu melanjutkan ceritanya.
 
“Anggia perlu kamu tahu, Olin kucing yang kau tolong itu sesungguhnya adalah penjelmaan istriku, ia dikutuk oleh Ibunya sendiri atau Ibu Mertua saya menjadi seekor kucing ketika ia kepergok berselingkuh dengan Tikno sopirku yang dulu.” Pak Bram berhenti sejenak melihat reaksi Anggia, Anggia separuh terkejut, separuh tidak percaya, separuh lagi napasnya menjadi sesak karena shock mendengar keanehan cerita itu. Pak Bram tidak memperdulikan ekspressi Anggia yang ternganga mendengar cerita itu, ia lalu melanjutkan ceritanya.

“Ibu Mertua saya adalah keturunan seorang penyihir terkenal dari Inggris, yang menikah dengan orang Indonesia, dan selanjutnya menetap di Indonesia. Kutukan itu sebenarnya adalah sebuah pelajaran bagi Caroline istri saya agar ia tak berani untuk mengulangi perbuatannya, tetapi belum sempat mencabut kutukan itu, mertuaku itu telah meninggal dunia karena kecelakaan lalulintas didaerah puncak. Jadilah Olin sampai sampai saat terakhirnya tetap menjadi seekor kucing. Saya sebenarnya masih menyayangi dan telah memaafkan dia.” Pak Bramantyo menghela napas sejenak untuk menenangkan hatinya sebelum meneruskan cerita itu.

“Tadi malam Olin mendatangi saya dalam mimpi, ia minta maaf sebesarnya atas perbuatannya yang dulu, dan ia ingin saya berjanji untuk segera menikah lagi, ia menyarankan pada saya untuk menikah dengan seorang gadis yang pantas, yang selama ini sebenarnya telah ada disekitar saya” kembali pak Bram berhenti sejenak untuk melihat ekspressi Anggia, Anggia pun dengan serius mendengarkan cerita itu, entah mengapa jantungnya terasa berdebar, karena ia dilibatkan dalam suatu masalah yang sangat pribadi dari bossnya ini.
 
“Tahukah kamu siapa yang dia minta untuk saya lamar ?” pak Bram tiba – tiba bertanya pada Anggia.

“Tid . . . tidak pak . . . “ Anggia berkata gugup mendapat pertanyaan yang tiba – tiba itu.

“Kamu Anggia . . ., kamu . . .” pak Bram berkata serius, sama sekali tidak ada gurauan dalam nada bicaranya.

“Sas . .  saya . .? mengapa saya . . . .?” Anggia tak tahu haruskah ia meloncat kegirangan mendengar cerita ini bergulir kepada sesuatu yang tidak disangka – sangka namun telah lama ia idamkan.

“Sebenarnya jauh dilubuk hatiku, aku sudah menyukai kamu sejak kamu bergabung dengan perusahaanku 3 tahun lalu, namun kesedihanku atas apa yang dialami Olin telah menutupi perasaanku yang sebenarnya, entah mengapa sepertinya Olin tahu itu dan berusaha mempertemukan kita, sayang ia mengalami kecelakaan ditengah perjalanan menuju kerumahmu, Anggia . . . aku minta kepadamu sudilah kamu menjadi Istriku ?, setidaknya demi Almarhumah Olin yang telah mempertemukan kita dan juga kau sayangi . . .” pak Bram berkata sambil berlutut dan memegang tangan Anggia.

Anggia sulit untuk menjawab, karena dia sangat bingung. Disatu sisi dia merasa sangat aneh dengan cerita si Bos tentang kutukan yang diterima istri pak Bramantyo ini, di sisi lainnya dia ingin menuruti kata hatinya bahwa dia juga mencintai Bosnya ini.

“Tidak . . . . .!!” tiba – tiba terdengar jawaban dari Anggia, tentu saja jawaban ini sangat mengagetkan pak Bramantyo, tersirat kekecewaan diwajahnya.

“Aku tidak akan menerima cintamu demi siapapun, aku menerima cintamu adalah demi diriku sendiri, karena akupun sudah tertarik padamu sejak aku bekerja dikantor itu” Anggia melanjutkan perkataannya sambil tersenyum kearah Bossnya itu.

Jawaban ini tentu saja sebuah anugrah yang tak terhingga bagi pak Bramantyo, ia menciumi tangan Anggia.

“Terima kasih Anggia . . . .” hanya itu kata yang terucap dari mulutnya sebelum ia memeluk gadis cantik itu seolah tak mau melepaskannya.

Jakarta, Medio Juni 2004.

by. Alamsyah Mangandaralam
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 
Kunjungi juga Website dibawah ini
Banner
Sponsor :
PRIMA ARCHITECTURE
Kami membantu mewujudkan keinginan Anda akan rumah yang ideal. Mulai dari tahap disain arsitektur sampai pelaksanaan fisk bangunan.
MER-C
Kunjungi Website kami, salurkan sumbangan anda di tempat yang tepat
Links :
WISATA HATI
Mari ikutan berdakwah lewat web ini. Salurkan rizki Anda di DDW (Donasi Dakwah lewat Web)
AYO MAKMURKAN MASJID
Jangan biarkan Masjid masjid menangis, ayo kita ramaikan masjid, sekaligus untuk menolak bencana, ikuti komunitasnya di Facebook "Ayo makmurkan Masjid".

We have 31 guests online

Beselstudio.com

JA slide show
Link Iklan:
BESELHOST.com
Jasa Hosting terbaik dan murah, harga mulai Rp 20.000 perbulan sudah mendapatkan Disk Space 100MB dan Bandwith 10GB serta SubDomain dengan format SUBDOMAIN.2DAY.IM. Mendapatkan CPANEL X3 dengan segala fasilitasnya seperti Email, PHP, MySql, Fantastico, dlsb. Segera kunjungi kami
RAMADHAN.MOBI
HP, Blackberry, iPhone dan iPad Jangan hanya dipakai SMS dan Chatting saja, isi waktu luang anda dengan membaca situs mobile RAMADHAN.MOBI. Semoga bermanfaat, Wassalam
GPSOKE.COM
Sedia CD Installasi Aplikasi GPS untuk HP yang Support GPS seperti Nokia E71, Samsung C6625, dll Hanya Rp 75.000,- saja sudah termasuk ongkos kirim untuk daerah Jawa Bali. keterangan lebih lanjut hubungi : info@gpsoke.com. catatan Aplikasi ini tidak membutuhkan pulsa dalam penggunaannya.