EPISODE 1 : PINTU RAHASIA DI GUA KARANG BOLONG
Randy memacu mobilnya dikegelapan malam, ia terpaksa harus kembali ke Jakarta secepatnya dikarenakan harus mempersiapkan Presentasi yang akan dilakukan besok, kepastian harus melakukan Presentasi itu memang mendadak diterima Randy melalui telpon dari kantornya, padahal tadi ia sedang menghadiri pesta ualng tahun temannya di sebuah Vila mewah diselatan pantai Karang Bolong dekat pantai Carita.
“It’s wrong time . . . it’s wrong time . . .” Randy menggumam dalam hati bila mengingat ia harus meninggalkan sebuah pesta yang dihadiri banyak wanita cantik yang genit dan seksi, kapan lagi moment seperti itu bisa terulang ?
Namun lamunannya segera buyar karena sebuah Mobil Box jenis Fuso dibelakangnya memberikan Isyarat lampu jauh yang berkedap – kedip menyuruhnya lebih menepi untuk dapat didahului.
Randy yang tidak mau mencari masalah, sedikit meminggirkan mobilnya agar Mobil Box tersebut dapat mendahuluinya, ia melirik dengan ujung matanya untuk mengetahui siapa gerangan sopir kurang ajar yang mengemudikan mobil tersebut. Cahaya lampu mobil Randy yang terang sedikit banyak membuat pantulan di Jalan Raya itu sehingga Randy sekilas dapat melihat bahwa yang menyetir mobil Box tersebut adalah seorang wanita Cantik dengan potongan rambut pendek dan hidung yang mancung, yang lebih menarik lagi orang yang duduk disebelah sang sopir juga seorang wanita cantik dengan rambut terurai, bahkan wanita yang duduk disebelah sopir tersebut sekilas seperti tersenyum kepadanya dengan tatapan yang genit.
“Gila . . . apalagi ini” Randy bergumam, bisa – bisanya malam – malam begini dijalan yang sepi dua orang wanita mengendarai sebuah mobil Box dengan kecepatan tinggi, sepertinya sangat terburu – buru. Jiwa petualangannya muncul dan Ia memutuskan untuk mengikuti mobil tersebut dari kejauhan.
Mobil Box tersebut berbelok kekiri keluar dari Jalan Raya lalu berhenti didekat Gua Karang Bolong. Randy menepikan kendaraannya kekiri Jalan Raya lalu mengendap – endap berjalan kearah Mobil Box itu berhenti, ia lalu bersembunyi dibalik pohon yang cukup rimbun daunnya.
Randy melihat Mobil Box itu telah mematikan mesinnya, dan tak lama kemudian ia melihat sang sopir dan penumpangnya turun dengan tergesa – gesa, sinar bulan sabit secara samar menyoroti wajah mereka yang cantik, benar – benar wanita cantik dengan tinggi badan dan lekuk lengkung tubuh yang proposional. Mereka mengenakan pakaian ketat lengan panjang dengan celana ketat yang juga berwarna sama.
“siapa mereka . . ., apa yang mereka lakukan ditempat ini . . .?” Randy bertanya dalam hati, sambil terus memperhatikan mereka.
“Clara, ayo cepat kita keluarkan mereka” ujar sang sopir.
“Kapten, kita belum mencapai target apakah tidak menjadi masalah . . .?” gadis yang dipanggil Clara yang semula duduk disebelah sang sopir itu menanggapi.
“Lebih bermasalah lagi bila kita terlambat pulang . . . “
“Baik Kapten . . .”
Randy tidak mengerti maksud perkataan mereka, namun baginya ini menjadi lebih menarik lagi untuk diikuti. Kedua gadis itu lalu bergegas membuka pintu Box mobil itu namun sebelumnya gadis yang dipanggil Kapten itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya, sebuah alat yang besarnya sama dengan senter 2 Batrey.
Begitu pintu belakang mobil Box itu dibuka seseorang laki – laki dengan tangan terborgol kebelakang meloncat dan berusaha berlari menjauhi mobil Box tersebut, namun hal itu tak berlangsung lama “Sang Kapten” terlihat mengarahkan alat kecil yang dipegangnya kearah laki – laki tersebut, dan “Sreeet . . .” seberkas sinar kecil terpancar dari alat tersebut mengenai si laki – laki yang sedang berlari . . . dan . . .
“Argh . . .” laki – laki itu mengerang kemudian terjatuh lemah, melihat itu gadis yang dipanggil Clara segera menghampiri dan melayangkan tendangan keras ke arah perut si laki – laki.
“Huh . . . bikin susah saja”
“Am . . . ampun . . . “ si laki – laki yang masih lemas berusaha sebisa mungkin mencoba menahan tendangan Clara, yang datang bertubi – tubi.
“Cukup Clara, . . .!!” sang Kapten menghentak
“Ya . . . ya . . . ya . . .” Clara yang masih terlihat kesal kemudian menarik dengan keras tangan si laki – laki agar dapat berdiri. Si laki – laki itu benar – benar terlihat tak berdaya.
“Tolong . . . Nona . . . jangan bawa saya . . . saya akan menikah minggu depan” Laki – laki itu berkata menghiba.
“Sudah jangan banyak bicara, ditempat barumu kamu bisa menikahi ribuan wanita . . . kau tak akan menyesal . . . hi . . . hi . . .hi . . .” Clara berkata sambil mendorong si laki – laki.
Randy terpaku melihat kejadian – kejadian yang berlangsung sangat cepat itu, bulu kuduknya sempat berdiri mendengar tertawa Clara yang walaupun merdu namun mengandung unsur Kebinalan dan pelecehan, ia juga tak menyangka gadis yang cantik dan ramping itu ternyata sangat lincah dan kuat namun sadis sekali saat menendangi si laki – laki yang mencoba melarikan diri itu, siapakah mereka lagi – lagi pertanyaan itu menyeruak dalam benaknya namun belum terjawab juga.
“Ayo keluar kalian semua, dan jangan ada yang mencoba untuk melarikan diri” sang Kapten berbicara penuh wibawa, dan tak lama kemudian dari dalam mobil Box itu keluar beberapa orang laki – laki, seperti halnya laki – laki yang melarikan diri tadi, tangan mereka juga terborgol kebelakang. Randy menghitung jumlah mereka ada 13 orang. Tubuh mereka ada yang tinggi ada yang sedang, ada yang putih ada yang hitam tidak ada yang spesifik. Namun terlihat sepertinya banyak diantara mereka yang telah mencoba untuk melakukan perlawanan saat akan dimasukkan dalam mobil box tersebut, karena terlihat baju – baju mereka kotor dan terkoyak, tanda adanya perlawanan sebelumnya.
Tanpa buang waktu lagi “Sang Kapten” lalu memerintahkan agar mereka segera berjalan menuju pintu gua. Dengan lesu karena tak berdaya mereka menuruti perintah “Sang Kapten” dipandu oleh Clara, karena sepertinya mereka sudah menyadari perlawanan tak akan berhasil baik.
Keraguan berkecamuk dalam diri Randy, apakah akan terus mencari tahu tentang apa yang terjadi saat ini, atau menghentikan saja petualangan ini karena sepertinya kedua orang gadis yang terlihat cantik dan manis itu sangatlah tangguh, bayangkan saja 13 orang laki – laki itu saja tidak dapat berbuat apa – apa kepada mereka, apalagi dia yang hanya seorang diri tanpa senjata apapun.
Namun keingintahuannya yang tinggi membuat ia diam – diam mengikuti rombongan itu memasuki gua Karang Bolong.
Rombongan itu berjalan menyusuri gua yang gelap dan lembab, semakin dalam masuk kedalam gua tersebut, suasana ngeri semakin mencekam, Randy berjalan mengendap – endap mengikuti mereka, sambil sesekali bersembunyi dibelakang tonjolan batu gua agar keberadaannya tidak ketahuan oleh rombongan tersebut, terutama oleh “Sang Kapten” yang berjalan paling belakang dari rombongan tersebut.
Sampai pada ujung lorong yang buntu, Randy melihat Clara memasukkan tangannya ke sebuah lubang sambil berkata “25267924”, beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh dan batu besar diujung lorong itu menggeser kesamping kiri. Terlihat cahaya terang keluar dari lobang yang terbuka, rupanya diujung lorong tersebut terdapat sebuah pintu rahasia.
Randy segera berlindung dibalik tonjolan batu, takut terlihat oleh rombongan tersebut, terlihat para tawanan laki – laki tersebut kembali ingin memberontak namun dengan sedikit kekerasan “Sang Kapten” dan anak buahnya berhasil memaksa mereka memasuki pintu rahasia tersebut dan menutupnya kembali.
Tinggallah Randy dalam kegelapan dan kebingungan mengalami kejadian yang amat aneh tersebut.
apa yang akan dilakukan Randy selanjutnya ?, apakah ia akan mengikuti rombongan tersebut ?, ikuti lanjutan cerita ini Eksklusif hanya untuk Scalamedia.net. klik link berikut
by. Alamsyah Mangandaralam
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
| < Prev | Next > |
|---|





